Quo Vadis pendidikan Kristen??
(wah,,ini adl catatan seminar yg wkt itu bertepatan dgn outbound & sikrab PMB PMK..ampun kawan..udah gitu catatannya dikit lagih,,,abis susah ngertinya dan konteks saya sbg mahasiswa jd rada ngga nyambung..mngkn baru akan terasa jika saya sdh jadi pengajar..i wish..)
Maaf ya teman-teman…waktu acara outbound & sikrab PMB PMK itu saya ga bisa dateng padahal saya adalah salah satu mentor yang wajib datang dalam tiap rangkaian acara PMK… saya tidak bisa datang pada hari tersebut karena saya mengikuti suatu seminar di jakarta bertema “QUO VADIS PENDIDIKAN KRISTEN ?”. Sebagai permintaan maaf, saya akan menceritakan semua yang saya dapat (walaupun sedikit…)ketika mengikuti seminar yang dimulai jam 09.00 dan berakhir jam 17.00 dengan waktu istirahat jam 13.00-14.00.
Sebelumnya…saya ceritakan dulu pengertian dari tema seminar tersebut. “QUO VADIS” memiliki arti “mau kemana..”. Untuk lebih lengkapnya, “QUO VADIS PENDIDIKAN KRISTEN” berarti “mau kemana pendidikan Kristen ?” ok..kita mulai aja yah… apa itu sekolah? Sekolah adalah transformasi kebenaran dari guru kepada murid dengan kesetujuan murid terhadap kebenaran yang diturunkan tersebut sekolah menjadi icon atau image yang menggambarkan iman Kristen dan guru menjadi orang2 KUNCI yang harus menunjukkan iman yang sungguh- sungguh. Oleh karena itu, guru2 Kristen harus bertanggung jawab di hadapan Allah. akan sangat berbahaya apabila sekolah Kristen dimiliki secara perorangan…ini akan seperti kasus John Calvin International School..ketika kebobrokan dari sekolah tersebut diketahui, nama John Calvin dan juga Kekristenan juga ikut tercoreng…inilah sebabnya sekolah Kristen haruslah diawasi dan pengawasnya harus mengerti prinsip2 Kristen.
Faktor2 penting dalam pendidikan Kristen :
1. Guru, guru berkarakter seperti apa dan bervisi seperti apa?
2. Bahan pengajarannya apa?
3. Menerima murid yang seperti apa?
4. Memberi fasilitas yang bagaimana?
faktor2 diats tidak dapat dibolak-balik…ini adalah urutan dengan prioritas… poin 1 bila guru tidak memiliki visi, pendidikan tidak akan memiliki arah. Tanpa guru yang baik, tidak akan ada pendidikan yang baik, dan tidak akan ada sekolah yang baik. Guru harus start dengan visi yang jelas dan dalam prosesnya haruslah tidak berkompromi terhadap kebenaran poin 2 jika pengajarannya tidak baik dan tidak bermutu, tidak mungkin sekolah tersebut baik. Pengajarannya haruslah konsisten karena ilmu itu konsisten poin 3 pendidik yang baik menyaring pengikut2nya atau murid2nya….seperti Kristus yang memilih murid2-Nya. Semakin jelas terlihat dari sekolah2 yang baik akan memilih muridnya, dengan sistem seleksi misalnya… poin 4 fasilitas bersifat fleksibel, berbeda dengan pengajaran yang harus konsisten…Sebagai catatan, anugerah paling KECIL adalah memiliki sekolah/gereja yang besar apakah dengan fakta bahwa betapa sulitnya faktor2 diatas dipenuhi akan membuat tiap org tidak berani menjadi guru atau membangun sekolah yang baik? Cara berpikir seperti ini harus dihindari…
TO BE A TEACHER IS A PRIVILEGE FROM GOD. Kesadaran inilah yang harus ditanamkan dalam diri kita. Menjadi guru sama seperti figur seorang ibu. Menjadi guru itu sama seperti Allah mempercayakan seorang ibu untuk mengandung seorang anak… Privilege yang besar seperti ini harus diikuti dengan jiwa yang mulia, karena privilege tersebut juga adalah anugerah dan anugerah itu diberikan kepada orang yang tidak layak menerimanya. Kesadaran akan ketidaklayakan untuk mengajar akan membuat diri kita bersandar sepenuhnya kepada Allah dan men-trigger kita untuk belajar lebih banyak dan mencaritahu lebih banyak. Dengan begini, seorang guru harus sadar betapa signifikan dan seriusnya menjadi seorang guru. Ketika seorang guru menjalankan fungsinya sebagai guru dengan sungguh2 dan sebaik-baiknya, ini akan membahagiakan seluruh DUNIA. Selain itu, ini adalah aktualisasi diri yang terbesar.
Sebagai catatan, A GOOD TEACHER CAN INFLUENCE THE WHOLE HISTORY. Hal yang juga sangat penting adalah guru harus sadar bahwa murid2 memiliki potensi, that there’s a posibility of each person can change. Jangan sampai terjadi kasus seperti THOMAS ALVA EDISON…kasus dimana seorang guru gagal melihat potensi yang dimiliki oleh seorang anak bernama Thomas Alva Edison dan mengirimkan surat kepada ibunda anak tersebut yang mengatakan bahwa sang anak terlalu bodoh untuk bersekolah dan guru tersebut mengembalikan anak tersebut kepada orang tuanya. Ketetapan hati yang dimiliki sang ibundalah yang harusnya dimiliki oleh semua guru di dunia, ketika ia tidak menyerah untuk mengajar sang anak sampai anak tersebut penerang dalam dunia ini (baca : menemukan bola lampu).
Sebagai tinjauan, kita akan melihat pola pikir pendidikan dari PLATO. Pendidikan yang diajarkan oleh PLATO adalah 35 tahun belajar seluruh ilmu pengetahuan, kemudian 15 tahun bekerja di dalam pekerjaan2 yang tidak penting atau rendah seperti bertani dsb untuk mengerti betapa sulitnya hidup dan bekerja. Pola pikir ini kurang lebih sama dengan mengtsius yang mewajibkan merasakan lelah,lapar,setengah mati,dll untuk menjadi pemimpin yang besar. Harus memiliki sikap yang lembut dan pendirian yang teguh, jangan seperti kepiting yang hanya keras diluar dan lembut di dlm. Mengtsius melihat bahwa sukacita terbesar adalah tidak bertentangan dengan LANGIT dan manusia, seluruh keluarga sehat, dan MENDAPATKAN MURID YANG BERSUKACITA UNTUK DIDIDIK.
Seorang guru yang baik haruslah :
1. Melihat bahwa murid adalah manusia yang berpribadi yang juga peta teladan Allah.
2. Berpikir mendalam, namun berbicara dangkal(think profoundly, speak simply)
3. Jeli melihat potensi murid
4. Mampu menggali yang tersembunyi dari muridnya
5. Mengembalikan posisi murid yang adalah peta teladan Allah
6. Mengerti kehendak Allah (man is what he/she reacts before GOD)
Lalu apakah output dari pendidikan Kristen? Ada 2, yaitu Laskar Kristus dan musuh gereja. Mengapa musuh gereja? Karena ketika pintu sekolah tersebut dibuka,kebobrokan pun diadaptasi dan orang2 menjadi mulai menghina. Oleh karena output tadi, dibutuhkan pengawasan terhadap pendidikan Kristen. Lalu apakah teori pendidikan yang sejati? Kesadaran seorang guru bahwa seorang murid adalah peta teladan Allah yang rusak karena dosa yang harus dikembalikan kepada posisi awalnya. Dengan bagaimana mengembalikan posisinya?Dengan memaksimalkan posibilitas yang ada. Namun, tetap dengan kesadaran bahwa di dlm Kristus kita akan melampaui apa yang hilang dari Adam, yaitu status taman eden, dan diberi status baru yaitu hidup yang kekal.
Pendidikan Kristen yang total adalah merekonstruksi ulang karakter Kekristenan dari muridnya.
Untuk merekonstruksi ulang karakter diperlukan :
1. Sandaran Firman Tuhan
2. Dengan transformasi nilai
3. Dengan konsep self-sacrifaction yang benar Untuk itulah, dibutuhkan suatu aset yang diperlukan untuk mendidik orang lain, yaitu…..TELADANMU!!!!!
Sebagai penutup, yang dinamakan bijak adalah mengisi wadah yang terbatas dengan sesuatu yang nilainya tak terbatas….
jadi gitu tuh yang saya dapat di seminar tersebut. Seminarnya sih bersertifikat tetapi sertifikat tersebut tidak akan memberi nilai tambah apapun!!!tetapi kebermengertian dari seminar tersebut dan kesadaran bahwa hanya Allah saja yang bertahta dalam tindak-tandauk kitalah yang akan memberi nilai pada setiap tindakan kita…huehuehue…dan saya semakin sadar bahwa daya serap saya amat sedikit dan saya masih harus banyak belajar…apalagi jika ingin menjadi seorang guru….
Stevi Fregate Hilma
Orang Kristen
TI ITB

Hmm, menarik nih stev. (btw, kenalan dulu saya Eko PL’06).
Kmrn aku pernah ngobrol2 dgn seorang dosen agama Kristen d salah satu kampus di Bdg. Dia punya hati utk mendirikan sekolah Kristen, karena dia merasa pendidikan di sekolah kristen itu mahal. Coba liat aja, d bdg, jkt, dan kota2 besar lainny di Indonesia, jarang ada sekolah Kristen yg mengaku punya tujuan mulia tp tetap aja biayanya mahal. Aku sedih jg sih dgn keadaan spt ini, ketika uang bs ngalahin visi pendidikan Kristen yg sejati.
ini eko salomo bkn yah???hahaha…jd ndak enak…manajemen uangpun sbnrnya hrsnya masuk ke dlm topik yg jd perbincangan perihal pendidikan…hanya saja utk RI (Republik Irasional) ini, baru jd pengajar sdikit dgn knowledge tdk seberapa udah minta gaji yg gede…disisi lain toh saya melihat ada kok pengajar2 yg tdk mementingkan gaji sama skali dan visinya jelas dengan kualitas pengajaran yg jauh diatas rata2 (meski tdk byk)…
tp terlepas dr itu, shrsnya mslh uang ini bs dikelarkan dgn manajemen yg benar dan bertgg jwb..
makasih stevie buat ringkasannya. Aku coba share ke beberapa temenku. Selamat melayani. Gbu
makasih stevie buat ringkasannya. Aku coba share ke beberapa temenku. Selamat melayani